Kisah Alumni SMAWI (SMA Negeri 1 Widang). Berawal dari mimpi. Perjuangan 3 Pemuda Ndeso, anaknya orang miskin Ndeso yang berkhayal di Jalanan Sawah sehabis pulang ngontel dari sekolah yang tidak begitu terkenal (baru berdiri) - Barno Suud

Situs Pribadi Barno Suud. Berisi Ilmu Pengetahuan (Knowledge), Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota), Teknik Lingkungan, GIS (Geographic Information System), Agama Islam, Lagu Islam, Sharing Perjuangan, Romance, Bisnis, Traveling, Jasa Pembuatan Peta Digital, Serta artikel bermanfaat lainnya.


Breaking

Home Top Ad

Jangan biarkan Rezeki & Ilmumu hanya untuk dirimu Sendiri . . . !!!

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Monday, February 08, 2021

Kisah Alumni SMAWI (SMA Negeri 1 Widang). Berawal dari mimpi. Perjuangan 3 Pemuda Ndeso, anaknya orang miskin Ndeso yang berkhayal di Jalanan Sawah sehabis pulang ngontel dari sekolah yang tidak begitu terkenal (baru berdiri)

Bismillahirrahmaanirrahiim....

kala sore itu.
Terasa angin semilir sepoi-sepoi.
Sejuk menggerakkan hehijauan dedaunan,
Tanaman padi yang hijau menghampar luas
Menambah sedap indahnya suasana sawah desa kala itu.

Indahnya Suasana Hehijauan Sawah di tepi jalan desa Penidon (dusun Pakis)

Burung-burung berkicau cantik
Bersahut-sahutan bak menyapa kami bertiga.

Pemuda Ndeso yang sedang mengendarai sepeda onthel sepulang dari sekolah.
Sebuah Sekolah yang tidak begitu terkenal.
Sekolah yang baru saja berdiri.
Dan belum melembaga.
Bahkan masih gabung dengan sekolah Kota. Tapi saat ini Alhamdulillah sekolah itu sudah melembaga dengan beragam prestasi.
SMACO.

Yachh. Dulu Kami menyebutnya SMACO.
SMA Compreng. (Sebutan untuk kalangan sendiri. hehe)
Alias SMA Negeri 1 Widang (SMAWI). Sekolah yang terletak di tepi ruas jalan Nasional.

Ketika sore sepulang sekolah di sebuah jalanan sawah desa. Tepatnya dusun Pakis, Desa Penidon, Kecamatan Plumpang, Tuban.
Terjadi percakapan 3 anak dengan mengendarai sepeda onthel. Anaknya orang miskin Ndeso.

“Aku kepengen ndang modot. Sok mben Nek aku dadi Tentara, Suud tak khawale”. Kata Puguh.
(Aku ingin segera tumbuh. Besok kalau aku jadi TNI, Suud akan ku khawal). Kata Puguh

“Aku kepengen dadi pegawe semen Brow. Sambil dadi pengusaha”. Sahut Teguh.
(Aku ingin jadi Pegawai Semen. Sambil jadi Pengusaha). Sahut Teguh

“Nek Aku, bar lulus pengen klebu kuliah tok ITS, jurusan Perencanaan Wilayah & Kota. Bar ngono aku mengabdi tok Pemerintah. Koyo Pak Doel Hasan.hahaha”.
(Kalau aku ingin setelah lulus ketrima kuliah di ITS. Jurusan Perencanaan Wilayah & Kota. Setelah itu aku mengabdi di pemerintah. Seperti Pak Ali Hasan. Hahaha)
Sahutku yang saat itu yang dijuluki Doel Hasan oleh teman-temanku. Salah satu orang terkaya di Kabupatenku (Tuban) yang mempunyai Istri jadi Bupati selama 2 Periode (Ibu Dra. Hj. Haeny Relawati Rini Widyastuti, M. Si.). Sebuah Kabupaten yang sangat makmur, yang terletak di perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Meskipun Pak Doel Hasan (nama aslinya Bapak Ali Hasan) secara struktural bukan orang yang duduk di pemerintahan, tetapi Beliau banyak sumbang sih bagi pemerintah Kabupaten Tuban. 
Dan salah satu putra Pak Ali Hasan kini juga meneruskan jejak Ibunya, kini terpilih jadi Bupati Tuban. Sebagai rekor Bupati Termuda. Dialah Mas Aditya Halindra Faridzky. 

Demikianlah dialog dengan sahabat-sahabat dekatku waktu itu ketika naik onthel melewati hehijauan Sawah. Kala sore itu sepulang dari Sekolah dengan ngonthel ±12 Km. Dengan gurauan, cengengesan kami berbagi cerita tentang impian masing-masing.
Kami bertiga masing-masing memiliki mimpi setinggi langit. Meskipun Kami hanyalah anaknya orang miskin Ndeso.
Bagi kami, mimpi-mimpi itu sangatlah mustahil untuk diwujudkan.

Puguh....
Teguh....
Dan Suud.
Yang satu bermimpi jadi pegawe Semen & Pengusaha.
Yang satu pengen jadi Tentara.
Sedangkan aku (Suud) bermimpi setelah lulus sekolah ketrima di ITS, di jurusan Perencanaan Wilayah & Kota. Lalu setelah itu mengabdi pada negeri khususnya bidang Pemerintahan. Selain itu juga menjadi seorang ilmuwan, Professor.

Sekali lagi, bagi kami mewujudkan mimpi setinggi langit itu adalah hal yang sangat mustahil. Disamping anaknya orang miskin Ndeso, kami juga berasal dari sekolah yang tidak begitu terkenal. Saat itu SMA Negeri 1 Widang adalah sebuah sekolah yang baru saja berdiri. Bahkan belum melembaga.
Puguh yang saat itu tubuhnya kecil kurus. Dengan ketinggian yang mustahil jika dapat memenuhi syarat pendaftaran TNI seperti impiannya.
Teguh yang hidupnya morat marit, yang hidup bersama Ibunya, yang ditinggal ayahnya sejak kecil.
Suud yang hidupnya sangat terpuruk. Bisa sekolah saja karena ditolong orang.

Hari demi hari telah berlalu. Kami bertiga lulus sekolah.
ALLAH SWT telah menunjukkan keajaiban-Nya pada Kami.
Dengan Skenario-Nya yang sangat indah, ALLAH SWT memperjalankan kami pada jalan masing-masing. Melalui proses yang sangat rumit.
Setelah lulus Sekolah, Teguh pun tidak langsung menjadi pegawai semen. Teguh bekerja vidio shooting dari sebuah usaha yang dirintis oleh tetangga. Namun ia tidak bertahan lama berkerja di vidio shooting rintisan tetangga tersebut. Ia kemudian menjadi seorang penjaga rental/ warnet usaha rintisan tetangga juga.
Saat menjadi penjaga rental/warnet ia pernah diremehkan orang. Pengalaman yang sangat menyakitkan dimana ia diremehkan oleh keluarga gadis yang sangat ia cintai, dengan alasan materi.
Puguh pun setelah lulus SMA juga tidak langsung menjadi Tentara. Setelah lulus sekolah SMA, puguh terjun bertani membantu orang tua, “ngarito” sapi, dan lain-lain. Dan juga ikut kerja di bengkel tetangga desa. Ia belajar secara otodidak tentang otomotif, karena ia juga tak pernah belajar otomotif sebelumnya. Ia bukan lulusan SMK/STM.
Puguh yang saat itu tubuhnya kecil kurus. Disela-sela kesibukannya sering belajar dan berlatih fisik agar tubuhnya tumbuh. Lari-lari, Push up, Pull up/Restock, dan lain sebagainya menjadi makanan sehari-hari bagi ia. Dengan harapan setelah tumbuh ia kepengen daftar jadi Tentara sebagaimana impiannya.
Meskipun Ia bercita-cita menjadi Tentara. Puguh terus berjuang mengubah nasib dengan cara mencari alternatif lain. Ia pernah berjuang mengundi nasib melalui jalur pendidikan ke jenjang berikutnya (kuliah). Ia sempat nekat datang ke Kota Surabaya untuk bisa menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Kota Surabaya. Ia mengikuti jalur tes Nasional.
Masya Allah, dia diberi kehebatan yang sangat luar biasa saat tes PTN. Ia memilih jurusan olah raga di PTN tersebut. Hasil test menunjukan ia mendapatkan rank 2 dari sekian ribu peserta. Bahkan ketika tes lari ia nomer 1 dan selisihnya terpaut jauh dengan peserta lainnya.
Namun sayang sekali, malang tak bisa ditolak. Ia harus gigit jari, perjuangan agar tetep bisa kuliah harus dikubur dalam-dalam. Karena telah kandas di tepi jalan.
Saat itu keberangkatan, kenekatan ia tidak dibekali dengan beasiswa semacam bidik misi maupun KIP seperti zaman sekarang. Sehingga meskipun lolos tes, dengan hasil terdepan Puguh pun harus mau menerima kenyataan pahit untuk tak bisa meneruskan perjuangannya agar tetep bisa kuliah.
Seandainya dulu beasiswa semarak sekarang, pasti Puguh tetep bisa tertolong untuk kuliah.
Telah pupus sudah harapan. Tetapi Puguh pantang menyerah. ia tetep terus berlatih dan berusaha untuk mengubah nasib. Ia melanjutkan dan menata kembali mimpi-mimpinya.
Puguh dan Teguh tetep tinggal di Desa.
Sedangkan aku (Suud) nekat-nekatan merantau ke Kota metropolitan tuk berjuang menuntut ilmu. Aku nekat-nekatan datang ke Kota Surabaya dengan modal enol mengikuti tes PTN jalur Nasional ambil jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota di ITS. Besar harapan agar bisa tetep kuliah. Meskipun perjuangan di kota Pahlawan begitu sangat berat dan rumit. Dengan izin ALLAH aku diberi kesempatan untuk bisa kuliah di Kota Pahlawan, di kampus yang menjadi impianku. (Perjuanganku untuk bisa menuntut ilmu di kota Pahlawan yang lebih jauh akan ku ceritakan di sesi lain. 😊).
Ketika aku sudah melanjutkan kuliah di Kota Metropolitan, Kota Pahlawan (Kota Surabaya)  tiap libur pulang kampung aku masih sering nyempatkan maen ke rumah Puguh dan Teguh yang masih tinggal di desa bekerja serabutan seadanya.
Hal yang paling aku suka ketika aku maen ke rumah Puguh yaitu dia sering menjamuku dengan ikan air tawar hasil jalaan ia sendiri dari sungai belakang rumah. Sebuah sungai yang bermuara ke sungai Bengawan Solo.
Tiap bertemu denganku saat itu, ia sering bercanda akan mimpinya bak mengigau seperti apa yang ia katakan ketika kami sama-sama berkhayal di jalanan sawah sambil ngonthel sepulang sekolah kala itu.
Karena bagi kami, mimpi-mimpi setinggi langit itu sungguh sangatlah mustahil untuk diwujudkan. 
“Sok mben nek aku dadi Tentara Suud tak khawal”.
(“Besok kalau aku jadi anggota TNI, Suud akan aku kawal”). Kata Puguh sambil cengengesan.
Bagiku, mendengar kata-kata Puguh bagai mengigau aku kasihan, miris. Meskipun dibalik itu aku bangga punya sabahat sebaik dia, loyal dan setianya sebagai sahabat.
Disaat temen-teman yang lain sudah menemukan jati dirinya, ia masih dalam perjuangan yang begitu sangat rumit. Itulah pergolakan batinku saat itu. Yang juga ikut merasa deg-degkan akan nasib sahabat baikku Puguh.
Namun sebagai sahabat yang juga sudah seperti saudara sendiri aku tak bisa berbuat apa. cumak bisa mensupport dan mendoakannya. 

Waktu terus berjalan. Kita tak ada kabar. Bak hilang ditelan bumi.
Ternyata Alhamdulillah pada akhirnya kami semua pada jalan impian masing-masing. Semua berawal dari mimpi.

Puguh yang semula lulus SMA tubuhnya masih kecil kurus atas berkat usahanya yang sangat luar biasa pun akhirnya dengan izin ALLAH SWT jadi Tentara.

Foto aku dan Puguh ketika awal-awal dia jadi Tentara

Sebelum ia jadi Tentara sempat kumpul-kumpul bersama temen-temen, mereka pada heran dia kok tumbuh “modot”. Padal biasanya seorang anak kalau sudah lulus SMA tumbuhnya dikit. Namun karna sering berlatih. Berdoa dan tentunya selalu berusaha tentunya.
Setelah sekian lama tak ada kabar juga, Teguh pun juga pada akhirnya jadi Pegawai PT. Semen Indonesia dan melakukan usaha.
Foto Teguh Jadi Pegawai Semen Gresik (PT. Semen Indonesia)

Sedangkan aku (Suud) dapat kesempatan untuk belajar di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

Foto waktu Teguh maen ke kampusku ITS


Setelah itu mengabdi pada negeri sehabis menuntut ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).  Dan Alhamdulillah setamat dari ITS, Saya sering dapat amanah untuk terlibat dalam pembangunan negeri melalui bidang infrastruktur. Seperti pembangunan jalan, jembatan, bendungan, irigasi, bandara, dan lain-lain di berbagai wilayah negeri ini. Mulai di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT, NTB, dan lainnya. 

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan. Demikian sharing perjalanan hidup kami. Dari sekolah yang tidak begitu terkenal. Saya menyebutnya tidak begitu terkenal karena saat itu sekolah kami SMA Negeri 1 Widang baru berdiri. Dan bagi kami mimpi-mimpi itu sangatlah mustahil untuk diwujudkan dari kami bertiga yang anaknya orang miskin ndeso. Tapi berkat jasa-jasa Bapak Ibu Guruku pula Alhamdulillah kami dapat mewujudkan mimpi masing-masing.
Terimakasih Bapak Ibu Guruku di sana. Bapak Ibu Guruku hebat. Bagi sekolah yang usianya sangat muda, baru berdiri ini sungguh capaian yang sangat luar biasa. Dan mungkin bukan cumak kisah kami bertiga saja. 
Semoga jasa-jasa Bapak Ibu Guruku dibalas oleh ALLAH SWT dengan balasan lebih. Aamiin3x Ya Robbal'alamiin.
 
Dan ini hanyalah untuk memotivasi diri sendiri dan bagi yang membutuhkan. Siapa tahu bisa menginspirasi. Bukan maksud untuk pamer atau apa. Karena di luar sana banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dan sangat menginspirasi. 😊

Foto Perjalananku dalam rangka Pembangunan Negeri Tercinta ini 

Ohya, Kisah Puguh ini luar biasa lho. Ia punya saudara banyak. Tapi sukses semua. Saudara ke-1 Jadi Guru & Pengusaha. Saudara ke-2 jadi Guru dan Pengusaha. Saudara ke-3 ia (jadi Tentara). Saudara ke-4 jadi Tentara juga. Saudara ke-5 Masih Sekolah di SMA Favorit. Bapaknya Puguh seorang Tukang becak di Desa. Sedangkan Ibunya jadi Ibu rumah tangga, sambil sekali-sekali ke sawah.
Puguh saat ini diberi amanah pada negeri kita tercinta untuk dinas di luar Negeri. Meskipun dulu pengen kuliah, namun sempat kandas di tengah jalan ketika sudah diperjuangkan. Ternyata di lain waktu setelah diangkat derajatnya kesempatan untuk kuliah/pendidikan datang juga.

Pesanku bagi adik-adik, pemuda-pemudi. Janganlah malu untuk bermimpi setinggi langit. Yah bermimpi apa aja. Nggak peduli ntah kamu ditakdirkan jadi anaknya orang miskin seperti kami maupun anaknya orang kaya raya yang bergelimangan harta. Karena orang hidup harus punya tujuan. Tak peduli ntah apa statusnya.
Presiden Soekarno pernah bilang. “Gantungkanlah Cita-citamu setinggi langit, Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”
Namun bermimpi saja tidak cukup. harus diimbangi dengan usaha dan doa. 
ALLAH SWT bersabda "...Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh sesuatu selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)...". (Q.S An-Najm : 39-40)

Demikian sharing salah satu perjuanganku dan kawan. Semoga Bermanfaat bagi para pembaca. 
Dan terimakasih bagi Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Mas-mas, Mbak-Mbak yang telah berkenan mampir di situs ini. Jika berkenan mohon dukung terus demi berkembangnya dengan  cara like medsos saya :
YouTube : Barno Suud
Twitter : Barno Suud

dengan mengeklik tulisan warna biru diatas. 
Semoga bisa istiqamah. 

Terimakasih 😊



No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here