Nasihat Film Lawas - Barno Suud

Situs Pribadi Barno Suud. Berisi Ilmu Pengetahuan (Knowledge), Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota), Teknik Lingkungan, GIS (Geographic Information System), Agama Islam, Lagu Islam, Sharing Perjuangan, Romance, Bisnis, Traveling, Jasa Pembuatan Peta Digital, Serta artikel bermanfaat lainnya.


Breaking

Home Top Ad

Jangan biarkan Rezeki & Ilmumu hanya untuk dirimu Sendiri . . . !!!

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Saturday, May 30, 2020

Nasihat Film Lawas



Tak bosan-bosan menonton film lawas ini. 😊 
Ada pesan-pesan kehidupan yang disampaikan dalam film ini. Diantaranya : 
1). Untuk jadi orang besar yang baik harus memiliki 8 sifat kebesarannya. Dan sebelum jadi orang besar harus melalui fase yang berat agar jadi orang besar yang tangguh. Banyak pengalaman, merasakan pahit getirnya kehidupan. 
Jelajah desa melankori. Seperti pepatah, Pelaut yang handal tidak diciptakan dari laut yang tenang. 
2). Manusia tak mampu request Tuhan tentang apa-apa yang menjadi takdir yang digariskannya. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, tetapi Tuhan lah yang menentukan 
3). Ketika Tuhan sudah menggariskan takdirnya, namun kita ingin sesuatu yang bukan takdirnya, bukan trahnya belum tentu itu yang terbaik bagi kita. So Kita hanya bisa menjalaninya 
4) Kisah lelaki berwajah rupawan yang harus mau menerima kenyataan takdirnya. Meskipun kelihatannya sangat pahit. Menjadi hidup sebatang kara dan kehilangan orang-orang yang dicintainya karena kebahagiaannya telah dirampas oleh orang jahat 
5) Dulu ada pendekar rupawan yang sangat sakti mandraguna yang ditakuti oleh Para pendekar lain. Di setiap pertarungan tak pernah terkalahkan. Bahkan Beliau mampu mengalahkan ajian yang sangat terkenal mematikan saat tu. Beliau juga mampu menciptakan jurus-jurus dan ajian sendiri. 
Namun Beliau pada akhirnya meninggal saat usia sudah tua. Bukan karena dikalahkan oleh Pendekar lain, namun karena memang sudah tua/sudah waktunya. 
sebelum meninggal Beliau berpesan kepada muridnya agar ketika meninggal kelak ingin dikuburkanya di sebuah kaki gunung dan diberi tanda batu. Supaya orang-orang dapat menziarahinya. Beliau juga menyampaikan nasihat bahwa sehebat apapun manusia pada akhirnya akan takluk pada takdirnya. 
kalau orang-orang melihat kuburnya biarkan berpikir bahwa ternyata yang dulu begitu pada akhirnya sekarang jadi seperti ini. 
Ketika kulit mulai keriput, tulang belulang mulai rapuh, kemanakah takdir itu membawanya. Bahwa ternyata kesaktian, ketampanan serta apa-apa yang dulunya dibanggakan pada akhirnya tak berguna. Beliau mulai tak berdaya manakala tulang belulang mulai rapuh dan kulit mulai mengeriput meskipun ketika masa muda jaya-jayanya berwajah rupawan dan sakti mandraguna serta memiliki apa-apa yang dapat dibanggakan. 
6) Jadi orang jangan adigang adigung adiguna. Ibaratnya baru memiliki satu dua jurus saja sudah merasa layaknya seorang pendekar yang linui. Ibaratnya baru mengusai beberapa hadist dan beberapa ayat Al Qur’an sudah layaknya seorang Mujtahid Mutlaq, sudah berani menyesat-nyesatkan orang yang tidak sepemahaman dengannya. Ilmu Tuhan itu luas, baru kitab Shahih Bukhari saja sharahnya berupa banyak kitab. Jika di susun satu kamar saja tak cukup untuk mengisi kitab tersebut. Ada Kitab fath al Bari, umdah al Qari, Irsyad as Sari, at Tausih ala Jami' ash Shahih dll. 
7) Jangan memaksakan kehendak orang lain mentang-mentang punya segalanya. Lebih-lebih merasa sanggup membayarnya dengan uang. Dan jangan membabi buta memaksakan keegoisan diri. 
Dalam film itu dikisahkan ada seorang Bapak yang mempunyai anak gadis jatuh cinta kepada seorang lelaki. Sang Bapak mendukung anak gadisnya mencintai lelaki itu. Namun takdir berkata lain, lelaki itu punya pandangan lain. Akhirnya anak gadis tersebut patah hati, merasa sakit hati. lalu akhirnya buhuh diri. 
Melihat satu-satunya anak yang dicintainya bunuh diri, Bapaknya sangat sedih jadi sangat marah dan dendam kepada lelaki itu. Lalu mencoba mencari lelaki itu dan akan dibunuhnya. Namun setiap ketemu mau membunuhnya tak pernah berhasil. 
Dendam yang tak kunjung padam, hingga suatu hari ketika masa sudah silam lelaki itu sudah menjadi seorang raja Gung Binanthara. Bapaknya gadis lampau yang dulu bunuh diri bekerja sama dengan musuh raja tersebut karna kepentingan yang sama yakni membunuh raja tersebut, namun juga tak berhasil dan tetap takhluk. Saat takhuk tetep diampuni sama raja tersebut dan dinasehati akan dendam yang membabi buta. 
8). Kita tak boleh seenaknya mentang-mentang jadi orang agung. Merasa seenaknya mentang-mentang orang lain lebih rendah daripada kita. Sejatinya kita hidup butuh orang-orang yang sekitar ntah bagaimana stratanya. 
9) Urusan duniawi dapat menyilaukan pandangan mata kalau kita tidak kuat. Dll. Banyak pesan lain yang disampaikan di film itu :-D

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here